23 Mei 2011

Sibuk or "SIBUK"???

Di zaman sekarang, siapa yang tidak sibuk? Khususnya bagi yang hidup dan bekerja di Singapore, kota yang modern, transportasi yang mudah, koneksi internet yang cepat, membuat kehidupan seringkali justru lebih sibuk.

Uniknya kesibukan tidak hanya menjadi symptom, tetapi menjadi simbol status bahkan kebanggaan. Di satu sisi kita tidak senang sibuk, tetapi di sisi lain kita tidak suka disebut ‘tidak sibuk’, atau ‘kurang kerjaan’. Di satu sisi kita mengeluh ketika sibuk, tetapi di sisi lain kita bangga bahwa kita orang sibuk. Sebagian orang perlahan-lahan mulai menikmati kesibukannya. Baginya hidup adalah sibuk dan dia tidak suka hidupnya tidak ada sesuatu yang dikerjakan.

Bagaimana hamba Tuhan harus hidup di tengah jemaat yang kebanyakan sibuk dan suka untuk sibuk ini? Apakah juga harus menjadi “busy pastor”? Sepertinya itu yang diharapkan sebagian jemaat dan itu yang juga ‘dipamerkan’ oleh sebagian hamba Tuhan. Kalau tidak sibuk, malu rasanya, jemaat semua sibuk kok hamba Tuhan nganggur?

Kalimat Eugene Peterson di dalam bukunya “The Contemplative Pastor” sangat mengejutkan:

I’m not arguing the accuracy of the adjective [busy]; I am, though, contesting the way it’s used to flatter and express sympathy… But the word busy is the symptom not of commitment but of betrayal. It is not devotion but defection. the adjective busy set as a modifier to pastor should sound to our ears like adulterous to characterize a wife or embezzling to describe a banker.

Terjemahan bebasnya:

Saya tidak mempermasalahkan ketepatan kata sifat sibuk itu; tetapi saya mempertanyakan cara kata itu digunakan untuk memuji atau menyatakan simpati… Tetapi kata sibuk bukanlah tanda komitmen tapi pengkhianatan. Itu bukan pengabdian tapi ketidaksetiaan. Kata sifat sibuk yang dikenakan kepada hamba Tuhan di telinga kita harus berbunyi seperti berzinah dikenakan kepada istri atau korupsi dikenakan kepada bankir.

Saya kira sibuk adalah musuh setiap orang, bukan hanya hamba Tuhan. Kalau saya boleh definisikan ulang: sibuk berarti mengerjakan banyak hal tapi mengabaikan yang esensial dalam hidup dan panggilan kita. Dan bagi setiap orang ‘yang esensial’ ini berbeda.

Bagi saya, ‘yang esensial’ itu berarti membaca Alkitab, lebih banyak berdoa, membaca buku, mempersiapkan khotbah dengan baik,punya waktu untuk ngobrol dengan sebanyak mungkin jemaat, bisa merenung dan memikirkan strategi pelayanan dengan lebih baik, punya waktu ngobrol dan jalan-jalan dengan istri, bisa belajar banyak hal dengan banyak cara (belajar keindahan manusia, keindahan alam, belajar penderitaan manusia, dsb), berolah raga, bisa pulang teratur menengok orang tua dan mertua saya, kira2 seperti itu. Kalau saya sibuk (baca: tidak mengerjakan ‘yang esensial’ itu) maka saya sedang mengkhianati hidup dan panggilan saya.

Bagi anda apa ‘yang esensial’ itu? Sebagai orang Kristen, apakah anda punya waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, membaca buku rohani? Sebagai anggota keluarga, apakah anda punya waktu yang berkualitas untuk keluarga? Sebagai anggota gereja, apa yang anda lakukan? Dan sebagai manusia dengan karunia dan panggilan dari Tuhan, apa yang esensial? Apakah hanya bekerja? Apakah hanya pergi dan meeting ke sana sini? Kalau ‘yang esensial’ itu yang tidak dikerjakan, maka sangat mungkin itu berarti anda sibuk, dan itu sama sekali tidak membanggakan.

Sumber : blogna Ko Jeffrey Siaw

Bacaan diatas saya dapatkan beberapa hari lalu dan baru hari ini saya baca.. Betapa terkejutna ketika saya membaca artikel diatas, rasanya seperti sebuah kotbah, saya merasa “tertampar” karena seringkali saya busy, saya hanya sibuk, sibuk dengan hal2 yang mungkin tidak esensial buat saya dan saat itu saya sedang mengkhianati hidup saya.

Temanz.. seberapa seringkah kita mempunyai waktu untuk merenungkan Firman Tuhan dalam sehari? Seberapa seringkah kita mempunyai waktu untuk ngobrol2 dengan Tuhan kita (yang katanya Dia adalah Sahabat dan Bapa kita?) Seberapa seringkah kita mempunyai waktu ngobrol2 dengan keluarga kita (papa, mama, koko, cici, dd)? Seberapa seringkah kita mempunyai waktu untuk “berlatih” untuk mendisiplinkan diri kita sendiri dalam “disiplin rohani” (entah itu membaca buku rohani, berdiam diri, atau hal2 lainnya)?

Perlu saya akui, saya pun bukan “manusia sempurna” dan saya pun sering kali sibuk, tapi seperti kata Penulis diatas dia, saya, dan berharap kalian pun yang membaca harus berjuang – dan terus berjuang – untuk tidak sibuk!! Biarlah kita bukan hanya menjadi orang Kristen yang sibuk dengan sejuta kegiatan yang mengatasnamakan “pelayanan” tetapi mengabaikan hal2 yang paling esensial didalam hidup ini. Yuuu.. diatas segala segala kesibukan kita, kita mau belajar untuk menikmati setiap hal, setiap kegiatan bersama dengan Tuhan, bukan sibuk doank!!

God bless ^^

Regards,

-deb2-

26 Januari 2010

Derreck Kayongo Menolong Uganda Lewat Sabun Bekas

Saya cukup "tertegur" ketika saya membaca sebuah blog "orang" (yg tdk saya kenal), artikel kutipan di bawah ini secara tdk langsung "menegur" saya sebagai generasi muda untuk lebih "peka" terhadap kondisi bangsa dan negara saya saat ini. Berikut sebuah cerita "Derreck Kayongo" dari Uganda yang memberi "pelajaran hidup" bagaimana kita dapat menolong sesama kita, "asal" kita peka dgn keadaan sekitar kita.. ^^


Derreck Kayongo menampung sabun bekas pakai dari hotel-hotel di Atlanta, mendaur ulang, menjadikannya baru, lantas mengirimkannya ke kamp-kamp pengungsian di negri asalnya Uganda.

Proyek mulia itu bermula sekitar tahun 1994 lalu. Tepatnya, saat Derreck Kayongo kali pertama tiba di Amerika Serikat (AS) setelah meninggalkan Uganda yang kondisinya semrawut. Kala itu dia menginap di sebuah hotel di Philadelphia.

Awalnya, tidak ada yang aneh sampai dia pergi ke kamar mandi di esok paginya. Dia menjumpai, sabun yang baru digunakan untuk mandi satu kali sudah diganti dengan yang baru. Demikian juga lusa dan hari-hari berikutnya. Dia selalu mendapatkan sabun baru tiap pagi.

Mendapati rutinitas yang tidak pernah dijumpainya di Afrika itu, Kayongo tersentak. Dia lantas menelepon sang ayah yang merupakan pengusaha sabun sebelum diktator Idi Amin berkuasa.

"Ayah tidak akan percaya dengan yang terjadi disini. Mereka membuang sabun bekas meskipun baru digunakan satu kali," serunya kepada sang ayah di Uganda seperti dilansir situs berita bisnis Global Atlanta.

Beberapa tahun kemudian tepatnya april 2009, dia mengundang manager sejumlah hotel di Atlanta. Dalam kesempatan itu, dia memberanikan diri meminta sabun2 bekas tersebut.

Dia terkejut betapa positifnya respons para petinggi hotel-hotel itu. "Ada sekitar 40 hotel di Atlanta yang bersedia memberikan sabun bekas pakai mereka dengan cuma-cuma." Papar Kayongo.

Dalam hitungan bulan, aktivitas anti kemiskinan tersebut berhasil mengumpulkan sedikitnya 4 ton sabun bekas pakai. Sebanyak 2 Ton dia tampung di sebuah gudang dari Alpharetta dan 2 ton lainnya di lantai dasar rumah seorang teman.

Kayongo yang dibantu istrinya, sarah, dalam proyek pengumpulan sabun bekas tersebut berharap bisa mngirimkan kargo pertamanya ke uganda oktober 2009. Rencananya sabun itu dikirimkan lewat kapal Kenya, diteruskan ke Uganda lewat jalan darat. Di Uganda, sabun-sabun bekas pakai itu bakal di sterilkan, lantas diperbarukan.

"Proses daur ulang dan pembentukan sabun itu akan menjadi lahan pekerjaan baru bagi warga setempat," tegas dia.

Belakangan, proyek Kayongo itu tidak hanya didukung hotel-hotel di Atlanta. Sedikitnya, ada 20 hotel lain dari Georgia, Florida, dan Tennese yang menjadi donatur sabun bagi Global Soap Project. Sementara itu, jasa pengiriman sabun bekas pakai tersebut didukung penuh oleh Relief Cargo yang bermarkas di Green Bay, Wisconsin. Perusahaan jasa pengiriman yang menjadi langganan organisasi kemanusiaan tersebut bersedia memberikan harga khusus untuk sekitar 5 ton sabun pertama yang segera dikirimkan ke Afrika itu.

"Jika pengiriman perdana itu berhasil, prospek membuka jasa pengiriman di negara-negara Afrika terbuka lebar," ujar presiden Relief Cargo Andrew Drescher. Biasanya, lanjut dia, kargo-kargo nya mengirim selimut atau alat-alat sekolah ke Afrika. Di Uganda dan negara miskin Afrika lainnya, sabun menjadi kebutuhan yang sangat penting.

"Banyak faktor selain kemiskinan yang membuat masyarakat di sini yang tidak mengenal sabun," papar Emmanuel d'Harcourt, dokter sekaligus direktur senior kesehatan pada International Rescue Committe.


Biarlah cerita diatas dapat memotivasi kita untuk dapat menolong sesama dengan lebih lagi..

God Bless ^^